Waktu itu, aku sedang bermain di rumahnya. Rumah orang itu. Siapa lagi, kalau bukan Fiva! Biar kaya, tapi baik, lhoo! Aku saja senang bermain dengannya.
Namun, saat aku pulang, ia murung.
"Cepat kembali!"
"Ya!"
Aku segera berlari sampai rumah.
"Bu, tadi Fiva murung banget." kataku prihatin.
"Kenapa dia murung?" tanya Ibu, lebih prihatin.
"Aku tidak tahu. Bu, dia juga pucat banget tadi. Dia sakit, Bu?" selidikku.
"Mungkin, yah." kata Ibu.
"Fiva, kok kamu pucat banget?" tanyaku waktu istirahat sekolah.
"A.. aku.." Fiva tampak semakin pucat.
"Ada apa?"
"Tidak, tak ada apapun." kata Fiva. Kepucatannya sudah agak hilang.
Tapi, saat itu...
"Fiva... kenapa kamu pucat?" tanya Evia, temanku.
"Tidak, kok..."
"Terus?"
"Yah, tak apa apa. Pergi saja, Evia." kata Fiva.
"APA!" seruku begitu sampai rumah.
"Fiva... benarkah kau adalah..."
Sejak itu, semua keluarga membicarakanku.
"Hii, berteman dengannya!"
"Siapa mau?"
"Iddiihh..."
Ternyata, Fiva...
Tidak!
Fiva meraih... ranking terakhir. Apakah karena ia pernah mencuri mangga? Atau karena ia tak pernah belajar? Sudahlah. Ini tak teralu mengejutkan, kan!